Pedagang Ayam Ancam Tak Berjualan Akibat Harga Terus Melambung
DomaiNesia
Share this:

Pedagang Ayam Ancam Tak Berjualan Akibat Harga Terus Melambung 1

Imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ditambah makin lama minimnya pasokan menyebabkan harga ayam potong makin lama melambung tinggi. Jika harga ayam terus meroket, Paguyuban Pedagang Ayam se-Jabodetabek mengancam bakal libur jualan massal.

Para pedagang menjadi harga ayam pas ini telah tidak masuk akal dan sulit dikendalikan. Sosialisasi tentang libur massal ini telah disebarluaskan ke semua pedagang ayam di pasar-pasar tradisional yang tersedia di Jabodetabek.

“Itu sesuai kesepakatan rapat perwakilan pedagang ayam se-Jabodetabek, dikarenakan harga ayam telah tidak masuk akal dan sepertinya terus dipaksakan naik,” kata Asep Somantri (42), seorang pedagang ayam potong di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.

Asep memaparkan, harga beli daging ayam potong broiler di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur terhadap Selasa (2/7) pagi telah raih Rp 38.000 per kilogram. Kenaikan harga itu terus terjadi sejak sebulan paling akhir dan diperkirakan bakal terus naik. Untuk harga ayam potong tanpa tulang bersama kulit harganya pas ini raih Rp 48.000 per kilogram, pas daging ayam saja, tanpa tulang dan kulit harganya melambung jadi Rp 53.000.

 

“Harga ini telah tidak masuk akal. Biasanya harga ayam potong broiler paling tinggi Rp 17.000 per kilogram, itu pun telah banyak konsumen yang mengeluh,” ungkapnya.

 

Dikatakan Asep, libur masal dijalankan hingga harga ayam kembali kondusif. Tingginya harga ayam, kata Asep, dianggap dikarenakan tersedia pihak spesifik yang berspekulasi bersama menghambat pasokan bibit ayam potong atau DOC (Day Old Chicken) kepada para peternak. Untuk itu, Dia berharap pemerintah langsung turun tangan mengendalikan harga ayam.

 

“Kami minta solusi pemerintah biar pedagang dan peternak sama-sama untung. Ini naiknya tinggi sekali,” katanya.

Baca Juga :  Cincin Pertunangan Sebagai Awal Mula Kisah Cinta

Dikatakan Asep, tingginya harga, menyebabkan lebih kurang 10 prosen dari pedagang yang berjualan di Passar Kramatjati tak kembali berjualan sejak dua pekan terakhir.

Pasalnya, bersama harga pas ini, tak banyak keuntungan yang sanggup diraih para pedagang, pas para konsumen makin lama berkurang. Asep mengatakan, pas ini para pedagang hanya sanggup raih keuntungan tak lebih dari Rp 1.000 per kilogram.

Padahal, jikalau harga ayam normal lebih kurang Rp 22.000 per kilogram hingga Rp 25.000 per kiloram, keuntungannya sanggup raih lebih kurang Rp 3.000 per kilogram.

“Kalau untungnya besar, siapa yang senang beli? Ini menguntungkan sedikit saja, pembelinya juga sedikit. Karena untungnya kecil dan konsumen juga berkurang, tersedia lebih kurang 10 prosen yang telah tidak berjualan dua pekan ini.

Hosting Unlimited Indonesia

Haggai Raharjo

Blogger. Pop art enthusiast. Professional traveler. Meme evangelist. Gamer musiman.